Bicara tentang bus legendaris dari wilayah Tapanuli, rasanya tidak afdal jika tidak menempatkan PO Sibualbuali di urutan pertama. Jika bus-bus era 80 dan 90-an dianggap sebagai senior di jalanan, maka armada yang satu ini pantas menyandang gelar sebagai sang granddaddy atau “Opung” dari segala bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Lintas Sumatera. Kehadirannya bukan sekadar sarana transportasi, melainkan saksi bisu dari sejarah panjang tradisi merantau masyarakat Batak.
1. Akar Sejarah: Berdiri di Bawah Naungan Gunung Sibualbuali
Jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1937, embrio raksasa jalanan ini telah lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan. Didirikan oleh dr. FL. Tobing (seorang pahlawan nasional) bersama beberapa tokoh lokal, perusahaan ini hadir untuk memecah isolasi wilayah pedalaman Sumatera.
Nama “Sibualbuali” sendiri diambil dari nama Gunung Sibualbuali, sebuah gunung berapi megah yang menaungi wilayah Sipirok. Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan; ia melambangkan kekokohan, kebanggaan lokal, serta doa agar perusahaan ini berdiri setegar gunung tersebut dalam melayani mobilitas masyarakat Tapanuli.
2. Kiprah Legendaris: Menaklukkan Sumatera Sebelum Era Aspal Mulus
Kiprah PO Sibualbuali sangat melegenda karena mereka adalah pelopor sejati. Mereka membelah rute Lintas Sumatera di zaman ketika jalanan belum mengenal aspal mulus, apalagi Tol Trans Sumatera. Di dekade-dekade awalnya, rute yang dilalui lebih banyak berupa jalan tanah, berbatu, berlumpur, dan membelah hutan lebat pegunungan Bukit Barisan.
Memasuki era 80-an, PO Sibualbuali mencapai masa keemasan paska-kemerdekaan. Dengan desain bodi “kapsul” klasiknya yang khas—sering kali mengandalkan sasis tangguh bermesin depan seperti Chevrolet, Fargo, atau Mercedes-Benz klasik—bus ini menjadi tulang punggung masyarakat Tapanuli. Armada ini sangat diandalkan oleh para pelajar, pedagang, dan pencari kerja untuk merantau dari kampung halaman menuju kota-kota besar seperti Medan, Padang, hingga menyeberang jauh ke Jakarta.
3. Romantika: Menggunung di Atap, Merekat di Dalam
Perjalanan bersama PO Sibualbuali di masa lalu menawarkan romantika kelana yang mungkin sulit dibayangkan oleh penumpang bus masa kini.
- Pemandangan Khas Kap Atap: Sama seperti Sanggul Mas, ciri khas visual PO Sibualbuali di masa kejayaannya adalah kap atas bus (bagasi atap) yang selalu penuh sesak. Tumpukan karung berisi hasil bumi (seperti kopi atau kemenyan), kardus-kardus tebal, hingga koper besi milik perantau diikat dengan sangat kuat menggunakan tambang dan ditutup rapat oleh terpal tebal. Mengangkut barang di atap adalah simbol dari harapan yang dibawa dari desa ke kota, atau kebanggaan hasil keringat yang dibawa pulang ke kampung.
- Perjalanan Tembus Waktu: Menembus jalur Sipirok–Tarutung yang berkelok tajam, melintasi tebing dan jurang, sering kali membuat waktu perjalanan menjadi tak menentu. Ban bocor, mesin yang harus didinginkan, atau terperosok di jalan berlumpur adalah hal biasa.
- Solidaritas Lintas Sumatera: Justru dari durasi perjalanan yang berhari-hari itulah persaudaraan terbentuk. Di dalam kabin bus yang sederhana, tanpa AC, dan diiringi deru bising mesin, para penumpang saling berbagi cerita, makanan, dan menahan dinginnya angin malam bersama-sama.
Akhir Sebuah Era
Seiring berjalannya waktu, persaingan bisnis transportasi yang semakin modern, krisis ekonomi, serta bermunculannya armada bus baru dengan fasilitas mewah membuat laju sang “Opung” perlahan melambat. Operasional PO Sibualbuali akhirnya meredup dan menyisakan kenangan. Namun, namanya telah terukir abadi sebagai monumen berjalan dalam sejarah transportasi darat Indonesia, khususnya bagi masyarakat Tapanuli.