Jejak Legenda Lintas Sumatera: Mengenang PO Sanggul Mas di Era Kejayaan 80 hingga 90-an
Bicara tentang sejarah transportasi darat di Pulau Sumatera, ingatan kita tentu akan tertuju pada masa-masa keemasan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang membelah panjang, ganas, dan eksotisnya Jalur Lintas Sumatera. Di antara deretan nama-nama besar yang pernah merajai aspal dari ujung utara hingga Pulau Jawa, PO Sanggul Mas memiliki tempat yang sangat istimewa di hati masyarakat. Berdiri dan berakar dari Dolok Sanggul, Sumatera Utara, armada bus ini menjelma menjadi legenda pada trayek Medan–Jakarta dan menjadi primadona perantau pada dekade 1980-an hingga 1990-an.
1. Lahir dari Rahim Tanah Batak: Dolok Sanggul
Dolok Sanggul, sebuah wilayah dataran tinggi yang sejuk di Kabupaten Humbang Hasundutan (dahulu merupakan bagian dari Tapanuli Utara), bukan sekadar kota persinggahan. Kota ini adalah tempat lahirnya armada transportasi yang tangguh. PO Sanggul Mas didirikan dengan membawa semangat juang dan etos kerja keras khas masyarakat Batak.
Nama “Sanggul Mas” sendiri membawa identitas kelahirannya sekaligus harapan akan kejayaan (emas) dalam memberikan pelayanan transportasi. Bus ini menjadi kebanggaan warga lokal, membawa nama daerah mereka dikenal hingga ke ibu kota.
2. Merajai Trayek Ekstrem Medan–Jakarta
Menaklukkan rute Medan hingga Jakarta pada era 80-an hingga 90-an bukanlah perkara mudah. Kondisi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) saat itu belum semulus, selebar, dan seterang sekarang. Jalur yang berkelok tajam, membelah hutan lebat, minimnya fasilitas penerangan, hingga tantangan medan yang berat menjadi makanan sehari-hari.
Namun, di situlah letak legenda PO Sanggul Mas terbangun:
- Ketangguhan Mesin dan Kru: Armada ini dikenal memiliki daya tahan mesin yang luar biasa dan kepiawaian para pengemudinya. Para “Sopir Batak” di balik kemudi Sanggul Mas sangat legendaris karena nyali, ketangkasan, dan keahlian mereka menaklukkan medan ekstrem Jalinsum.
- Urat Nadi Perantau: Perjalanan dari Medan menuju Jakarta memakan waktu berhari-hari, menyeberangi Selat Sunda via Pelabuhan Bakauheni–Merak, hingga akhirnya menurunkan sauh di terminal-terminal sibuk Jakarta. Bus ini menjadi jembatan rindu sekaligus urat nadi bagi para perantau yang ingin mengadu nasib di Pulau Jawa atau sekadar pulang kampung (mudik).
3. Romantika Penumpang di Era 80 dan 90-an
Bagi para penumpang yang pernah mencicipi aspal bersama PO Sanggul Mas di masa kejayaannya, perjalanan bukan sekadar berpindah titik lokasi, melainkan sebuah petualangan hidup.
- Gunungan Barang di Atap Bus: Menjadi pemandangan yang sangat ikonik di mana bagian atap bus (bagasi atas) penuh dengan barang bawaan yang ditutup terpal. Mulai dari koper, kardus, hasil bumi, hingga perabotan meneman perjalanan jauh tersebut.
- Keluarga Baru di Jalan: Karena perjalanan bisa memakan waktu 3 hari 2 malam (atau bahkan lebih jika ada kendala di jalan), para penumpang di dalam bus perlahan luluh menjadi layaknya keluarga baru. Saling berbagi cerita, bertukar bekal makanan, bernyanyi bersama, dan menahan lelah adalah romantika solidaritas yang sulit ditemukan di era transportasi modern.
- Persinggahan Rumah Makan: Momen istirahat di rumah makan atau rest area langganan Lintas Sumatera adalah saat yang paling dinanti untuk meluruskan kaki, mencuci muka, dan menikmati kopi atau teh hangat di tengah dinginnya malam Sumatera.
4. Akhir Sebuah Era dan Memori yang Menolak Lupa
Memasuki pergantian milenium ke era 2000-an, dinamika transportasi mengalami perubahan drastis. Kehadiran maskapai penerbangan berbiaya murah (Low-Cost Carrier), infrastruktur yang berubah, serta persaingan bisnis otobus yang semakin ketat membuat banyak armada legendaris era 80 dan 90-an perlahan meredup, tak terkecuali generasi seangkatan PO Sanggul Mas.
Meski zaman telah berganti dan bus-bus modern yang lebih mewah bermunculan, nama PO Sanggul Mas tetap abadi dalam catatan sejarah transportasi darat Indonesia. Bagi generasi yang pernah merasakannya, mendengar nama bus ini akan langsung memutar memori tentang deru mesin diesel di tengah malam, lantunan musik daerah dari kaset pita yang menemani sepanjang jalan, dan semangat merantau yang pantang menyerah.
PO Sanggul Mas bukan sekadar perusahaan otobus; ia adalah saksi bisu sejarah panjang migrasi, ekonomi, dan ikatan sosial masyarakat Sumatera Utara.